“Mutiara, nilai Matematika kamu 98, apakah kamu punya saudara di Jakarta Timur?”, tanya guru SD saya belasan tahun yang lalu saat saya duduk di bangku kelas 3 SD

—-

Hari ini, tanggal 15 Juli 2018, kita memperingati World Youth Skills Day (WYSD) atau dalam bahasa Indonesia bisa disebut sebagai Hari Keterampilan Pemuda Sedunia. Dalam kalender PBB, WYSD adalah salah satu hari penting yang diperingati untuk membuat dan meningkatkan skill para pemuda sehingga meminimalisir angka pengangguran di negara berkembang. PBB aktif menyerukan WYSD ini dengan tujuan agar pemerintah di berbagai negara berkembang dapa berperan aktif dalam mendidik dan membantu kaum pemuda untuk mengatasi tantangan dan rintangan pekerjaan yang dihadapi.

Dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia segera menyongsong fase bonus demografi, yaitu kondisi dimana populasi usia produktif lebih banyak dari usia nonproduktif yang dapat dilihat dari rasio ketergantungan penduduk. Berdasarkan prediksi pemerintah, Indonesia diperkirakan akan mengalami fase puncak bonus demografi pada tahun 2030 yang akan datang (UNFPA, 2015). Sebagai ilustrasi, pada 2015, rasio ketergantungan penduduk Indonesia sebesar 49,2 yang artinya setiap 100 penduduk usia produktif menanggung beban sebanyak sekitar 49 penduduk usia nonproduktif. Menurut saya membludaknya usia produktif ini dapat dimanfaatkan sebagai peluang emas untuk meningkatkan perekonomian Indonesia sehingga pertumbuhan ekonomi dan daya saing Indonesia terus meningkat.

Salah satu contohnya adalah negara Jepang yang mengalami pertumbuhan penduduk akibat baby boom pada masa setelah perang dunia kedua. Kondisi tersebut membuat Jepang memiliki sumber daya manusia yang meningkat signifikan sehingga pemerintah berupaya untuk tidak menyia-nyiakan kondisi tersebut melalui upaya industrialisasi yang melahirkan berbagai inovasi. Hal tersebut memberi dampak positif bagi negara Jepang hingga menjadikannya sebagai salah satu jajaran negara maju dunia hingga saat ini.

Meskipun terlihat sangat menarik, perlu upaya tersendiri agar negara dapat memperoleh hasil yang positif dari fase ini dan tidak menghadapi hal sebaliknya yakni bencana demografi. Pemerintah harus mengupayakan agar warganya menjadi penduduk yang terampil dan berkualitas sehingga memiliki keterampilan yang sesuai dengan permintaan pasar tenaga kerja.

Di kalangan pemuda Indonesia sendiri, salah satu gerakan yang menurut saya akan memberikan manfaat besar adalah gerkan 1000 Startup Digital yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi pada tahun 2016 yang lalu. Saya sangat mengapresiasi upaya pemerintah untuk mendorong petumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Satu hal lain yang saya harapkan adalah gerakan ini mendorong semakin banyak partisipasi kaum perempuan di dunia teknologi pada khususnya dan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) pada umumnya.

Sebagai seorang profesional dengan latar belakang pendidikan dan bidang pekerjaan di dunia teknologi, saya selalu berupaya untuk dapat mendukung lebih banyak partisipasi kaum perempuan di bidang STEM. Saya sendiri percaya bahwa partisipasi perempuan di bidang STEM dapat ditingkatkan dengan dukungan seluruh lapisan masyarakat baik dari keluarga, masyarakat, pemerintah, maupun lingkungan sekitar tanpa memandang gender.

Sumber: World Bank Education Statistics

Jika kita lihat dari grafik di atas, dalam penelitian yang dilakukan tahun 2014 terhadap enam negara yakni Amerika, Chili, Afrika Selatan, Turki, Indonesia, dan India terlihat bahwa jumlah lulusan di bidang Science and Technology serta Engineering, Manufacturing, and Construction memiliki nilai yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan lulusan di bidang ilmu lainnya seperti Education sertaSocial Sciences Business and Law.

Di balik grafik itu, terdapat juga fakta yang tidak lebih baik yakni proporsi wanita yang menerima gelar teknik atau ilmu komputer di Amerika Serikat sebenarnya menurun drastis dalam rentang waktu antara tahun 2004 hingga 2014, dimana hal yang sama juga terjadi di seluruh dunia. Pada tahun 2013, hanya empat negara di Eropa yang mengklaim memiliki setidaknya 15 persen atau lebih kaum perempuan sebagai lulusan di bidang STEM. Bahkan ketika wanita berhasi mendapatkan gelar STEM, mereka cenderung memilih untuk tidak bekerja di bidang tersebut. Penelitian yang terbaru bahkan menunjukkan bahwa hanya 1 dari 7 wanita dengan gelar STEM yang benar-benar bekerja di area tersebut, dan fakta ini memang terjadi di sebagian besar negara.

Beberapa faktor yang mengakibatkan masih rendahnya partisipasi kaum perempuan di bidang STEM adalah permasalahan yang dapat dikatakan cukup kompleks, namun jika kita mau meninjau lebih dalam sebenarnya ada tiga hal yang menjadi penyebab utama, yakni 1) Aspirasi yang terbentuk dari norma sosial dan harapan orang tua; 2) Kegagalan informasi yang mempengaruhi keputusan seseorang untuk memasuki dan meninggalkan bidang STEM; 3) Faktor perusahaan/institusional yang membatasi kesempatan perempuan untuk bisa bekerja di bidang STEM.

Saya sendiri sering menemui fakta bahwa ada cukup banyak anak-anak yang diarahkan untuk tidak terjun ke dunia STEM termasuk pada saat akan memasuki perguruan tinggi dan dunia kerja. Kaum perempuan jarang didorong untuk belajar matematika atau sains dan seringkali secara tidak langsung mnginternalisasikan keyakinan bahwa anak laki-laki lebih baik dalam bidang ini. Saya bahkan pernah membaca penelitian lain yang menunjukkan bahwa pada anak-anak perempuan yang memperoleh nilai lebih tinggi di jenjang sekolah dasar, sebagian besar akan cenderung menurun saat mereka memasuki jenjang sekolah menengah atas. Selain itu, harapan dan dukungan orangtua terhadap anaknya untuk menekuni bidang STEM juga seringkali mengalami pergeseran di usia tersebut. Di sisi lain, bagi para perempuan yang berhasil mengatasi tantangan sejenis dan tetap berprestasi di bidang STEM, seringkali merasa khawatir akan masa depannya apabila menjadi satu-satunya gadis yang memilih untuk mengejar karir di bidang STEM, termasuk isu-isu terkait diskriminasi di dunia kerja yang seringkali dibicarakan. Selain itu masih sedikitnya mentor yang bisa menjadi panutan untuk bidang ini semakin menambah keraguan dalam diri kaum perempuan.

Saya pribadi bersyukur kedua orangtua saya memberikan kebebasan bagi saya untuk memilih bidang yang ingin saya tekuni. Sebagaimana penelitian di atas, saya juga pernah merasakan kebimbangan yang banyak dibicarakan kaum perempuan di bidang STEM meski akhirnya bisa mengatasi hal tersebut hingga saat ini. Sejak kecil saya selalu memiliki prestasi akademis yang baik di sekolah. Namun persepsi dan keraguan tersebut sangat mudah ditemui di masyarakat. Saya ingat, saat kelas 3 SD saya mendapat nilai 98 untuk ujian matematika di saat sebagian besar teman saya yang lain mendapat nilai di bawah 60, wali kelas memanggil saya dan menginterogasi saya untuk menanyakan apakah saya memiliki saudara atau kerabat di wilayah Jakarta Timur, karena pada saat itu ujian di sekolah saya yang terletak di Kemang, Jakarta Selatan dilakukan selang seminggu lebih lama dibanding sekolah di wilayah Jakarta Timur. Saat kejadian tersebut saya sampaikan ke orangtua saya, saya tahu perasaaan mereka campur aduk antara kesal terhadap prasangka wali kelas saya sekaligus bangga terhadap nilai saya. Saya membuktikan bahwa hal tersebut tidak benar dengan selalu meraih peringkat pertama hingga mendapat ujian nasional tertinggi. Passion saya terhadap science dan teknologi mulai terlihat sejak saat ini. Ayah saya memiliki latar belakang bidang ilmu fisika nuklir yang memiliki passion besar di bidang teknologi, sehingga komputer bukan merupakan benda asing bagi saya sejak kecil.

Pada masa SMP, pengalaman terkait persepsi tersebut juga masih saya alami. Kebetulan saat itu di kelas 1 SMP saya mendapat peringkat pertama dalam 3 caturwulan selama berturut-turut. Begitu naik kelas 2 SMP, wali kelas saya menyampaikan bahwa anak-anak perempuan yang berprestasi di kelas 1 pasti prestasinya akan jauh menurun di kelas 2. Saya dan seorang rekan perempuan saya tidak menyukai kata-kata tersebut, akhirnya kami terpacu membuktikan kepada wali kelas kami saat itu bahwa hal itu tidak benar hingga kami berdua selalu meraih peringkat pertama dan kedua hingga lulus SMP.

Pada masa SMA, dengan dukungan penuh dari lingkungan, saya berhasil mempertahankan prestasi akademis saya dan mulai dipertemukan dengan rekan-rekan dengan passion di bidang teknologi. Saya beruntung dapat bergabung dengan komunitas ICTeam dimana saya menemukan beberapa role model untuk bidang ilmu yang saya minati. Pada masa ini saya dan teman-teman juga membuktikan bahwa remaja dengan passion di bidang STEM juga tetap memiliki kehidupan yang indah dan menyenangkan. Saat itu saya juga aktif bergabung di berbagai organisasi lain seperti komunitas olahraga dan entrepreneurship, serta menjadi ketua umum koperasi siswa. Begitu lulus SMA, orang tua meminta saya untuk berkuliah hanya di kota Malang karena alasan spesifik, akhirnya saat itu saya menuruti arahan orangtua hingga saya diterima di jurusan terfavorit di kota Malang yakni jurusan Akuntansi Universitas Brawijaya serta jurusan Teknik Informatika Universitas Ma Chung. Meski berusaha menuruti perintah orang tua, pada saat yang sama saya juga memutuskan untuk tidak menyerah. Saya diterima dengan beasiswa di Univeristas Ma Chung, sebuah universitas swasta modern yang sangat mengedepankan perkembangan teknologi. Didirikan oleh lebih dari 90 orang pengusaha sukses dan berdedikasi, menjadikan Universitas Ma Chung sebagai pilihan yang sangat menarik bagi saya. Setelah mengalami pergulatan batin akhirnya saya sampaikan ke orangtua saya bahwa saya memutuskan untuk meninggalkan jurusan yang disarankan oleh orangtua saya yakni Akuntansi, dan memilih untuk tetap mengikuti passion saya.

Karena berkesempatan untuk berkuliah di bidang yang sesuai dengan passion saya, saya menjalaninya dengan penuh semangat dan bahagia. Saya sangat bersyukur di masa perkuliahan tidak banyak diskriminasi yang saya alami. Lingkungan di kampus baik teman-teman maupun dosen sangat mendukung saya untuk belajar banyak hal. Di sini saya juga bertemu dengan perempuan-perempuan dengan passion di bidang teknologi yang selalu menjadi support system satu sama lain. Di sini saya tetap berupaya sebaik mungkin untuk menjaga prestasi akademik saya, sekaligus memperbanyak pengalaman guna pengembangan diri. Semasa kuliah, saya juga bekerja untuk mengelola website universitas, sebagai programmer, database administrator, sekaligus membantu tim PR dan marketing dalam berbagai kegiatan. Saya juga bersyukur mendapat kesempatan untuk menjadi ketua umum Programming Forum di kampus dimana saat itu 85% mahasiswa/i di jurusan saya adalah laki-laki. Saat itu, memang beberapa kali saya khawatir akan diskriminasi yang akan saya alami mengingat sangat sedikit teman perempuan di bidang saya dibandingkan dengan teman laki-laki, namun saya berusaha untuk terus percaya diri. Saya terus menulis berbagai artikel teknologi di majalah nasional, saya terus bersemangat menerima ajakan dosen saya untuk membantunya menulis buku-buku teknologi, saya terus berusaha memberikan yang terbaik selama menjadi asisten dosen pemrograman, saya terus menikmati bidang STEM yang saya geluti dan saya terus bersemangat mengikuti passion saya.

Lulus dari bangku kuliah, saya diterima bekerja sebagai pegawai World Bank dengan tes wawancara salah satunya mengenai query dan berbagai algoritma yang harus saya tulis di atas kertas. Belakangan saya baru tahu bahwa 5 kandidat lain adalah laki-laki, senior, dan gagal dalam tes tersebut. Mentor yang sekaligus role model saya mengatakan ini bukan keberuntungan melainkan buah dari kegigihan. Pendapatan pertama yang saya terima saat itu relatif jauh lebih tinggi dari ekspektasi anak-anak seusia saya menjadikan saya semakin bersemangat untuk berada di bidang ini. Prinsip-prinsip kegigihan dan profesionalisme yang ditanamkan dari berbagai pelajaran soft skill di kampus terus saya pegang teguh. Dengan pekerjaan saya yang saat itu relatif jarang ditemui pada anak-anak seusia saya, saya banyak diundang ke berbagai event untuk menjadi pembicara, moderator, maupun mentor. Saat weekend pun saya seringkali mengambil berbagai tawaran freelance dengan penuh antusiasi mulai dari web developer, MC, bahkan notes-taker untuk event-event terkait teknologi. Saya juga menerima beberapa tawaran pekerjaan yang akhirnya saya memilih salah satunya untuk saya jalani hingga sekarang. Selama perjalanan karir, banyak tawaran dan godaan untuk beralih bidang, tapi saya masih memilih untuk bertahan pada passion saya. Saya sangat bersyukur menikah dengan pasangan yang memiliki passion di bidang yang sama, dengan usia 6 tahun lebih senior tentunya pengalaman dan kompetensi yang ia miliki sudah beberapa level lebih tinggi dari saya. Untuk itu saya banyak belajar darinya dan selalu termotivasi untuk dapat keeping up dengan levelnya. Saya juga bergabung ke beberapa komunitas profesional seperti Woman Techmakers, Girls in Tech, serta FemaleDev. Suami saya yang juga ketua umum sebuah asosiasi teknologi menjadikan saya banyak mendampinginya mengisi acara sehingga menjaga pengetahuan saya untuk selalu up to date

Jika melihat ke belakang, saya mengakui bahwa saya cukup bangga dengan diri saya pada saat itu yang mampu bertahan dengan gigih di antara berbagai kebimbangan. Di sisi lain saya sadar pengaruh lingkungan yang supportif sangat berperan penting untuk menjadikan saya gadis kecil yang berani memilih untuk mengikuti passion-nya di bidang STEM. Saat ini saya baru saja berstatus menjadi mahasiswi magister di Universitas Indonesia dan masih di bidang STEM. Saya berharap semangat yang telah saya pupuk sejak dini dapat terus mengakar dalam diri saya. Saya juga berharap suatu hari dapat melakukan sesuatu hal yang berguna bagi para perempuan Indonesia yang memiliki passion di bidang STEM.

Saat ini saya sudah memiliki seorang anak perempuan yang sejak kecil terlihat lebih berbakat dibanding saya pada usia yang sama. Saya ingin putri saya suatu hari nanti dapat mengikuti passion-nya, apapun itu baik bidang STEM maupun non-STEM, tanpa paksaan dari siapapun, tanpa pengaruh negatif dari siapapun, tanpa tekanan dari manapun. Saya ingin perempuan-perempuan Indonesia yang memiliki passion di bidang STEM maupun non-STEM bisa menjalani pilihannya dengan bahagia.

Sebagai bagian dari masyarakat, mungkin ada sebagian yang bertanya dalam hati:

So, why should we care?

Pertanyaan ini kembali berujung pada masalah keadilan. Ya, perempuan perlu untuk memperoleh hak dan kesempatan yang sama sebagaimana laki-laki dalam menentukan pilihan karirnya dan menekuni bidang STEM. Meskipun argumen ini dapat ditepis melalui adanya kesempatan yang sama dalam dunia pendidikan namun masih sedikitnya perempuan yang memilih bidang ini menunjukkan masih adanya sesuatu yang kurang tepat. Bahkan telah ada penelitian yang menunjukkan bahwa menghilangkan diskriminasi atau pemisahan gender dalam dunia kerja maupun entrepreneurship dapat meingkatkan produktivitas global sebesar 16 persen.

Memperingati WYSD 2018 ini, saya berharap banyak pihak dapat menyadari bahwa meningkatkan partisipasi lebih banyak masyarakat, terutama di bidang STEM, akan memberikan pengaruh besar terhadap bagaimana kondisi bangsa dan dunia di masa depan. Bahkan di Amerika telah dilakukan penelitian yang menunjukkan bahwa pekerjaan di bidang tekonologi informasi diproyeksikan akan tumbuh 12 persen dari 2014 hingga 2024, jauh lebih cepat dibandingkan rata-rata pekerjaan bidang lain. Turut berperan dalam meningkatkan partisipasi kaum perempuan di bidang STEM dapat diterjemahkan sebagai dukungan terhadap kesetaraan gender termasuk dari sisi pendapatan dan prospek ekonomi perempuan sekaligus keluarga di Indonesia. Jika para perempuan muda masa depan diharapkan dapat memperoleh kesempatan ini, upaya dan dukungan pemerintah untuk bidang pekerjaan ini perlu dimulai sedini mungkin.

Solusi yang dapat ditawarkan pemerintah sebenarnya relatif mudah dan tidak mahal, yakni dengan berusaha semaksimal mungkin untuk menciptakan lingkungan sekolah dan pekerjaan yang memungkinkan para perempuan untuk merasa nyaman dan percaya diri di dalam bidangnya. Sebagaimana pengalaman yang saya alami sendiri, faktor ini merupakan hal yang sangat penting dalam pengambilan keputusan sesorang. Beberapa hal yang dilakukan negara maju untuk mengatasi tantangan serupa diantaranya memberikan contoh sosok role model untuk para perempuan, memberikan informasi yang memadai mengenai STEM, membangun lingkungan yang suportif, serta beberapa hal lain menunjukkan banyak hasil yang positif. Sebagai negara berkembang, Indonesia perlu terus berusaha agar hasil tersebut dapat terwujud, meskipun demikian perlu dipahami bersama bahwa distribusi informasi yang benar serta peran guru sebagai motivator merupakan hal yang memberi pengaruh besar. Benar memang dari semua hal tersebut, perubahan kecil yang kita lakukan sebagai bagian dari masyarakat akan sangat membantu dalam membangun masa depan yang adil dan setara baik bagi kaum perempuan maupun laki-laki.