Sebagai Ibu dari seorang putri yang baru menginjak usia tiga tahun, saya seringkali takjub dengan perkembangan dan kemampuan baru yang dimiliki putri saya. Rasanya setiap minggu ada saja kemampuan baru seperti lagu, cerita, doa, atau tarian baru yang ia tunjukkan kepada saya dan membuat cukup terpana. Sebagaimana orangtua lainnya, sejak putri saya masih dalam kandungan. saya selalu berusaha memperkaya pengetahuan saya mengenai tumbuh kembang anak dengan membeli buku-buku parenting dan mengikuti berbagai seminar parenting. Mengingat Alisya merupakan anak pertama saya dimana saya juga masih dalam tahap belajar sebagai orangtua, saya baru mengetahui bahwa sesungguhnya tumbuh kembang seorang anak dapat dinilai dari aspek akal, fisik, dan sosial.

Di setiap usianya, anak-anak memiliki fase tumbuh kembang yang berbeda-beda sehingga sifat alamiah yang berkembang pada masing-masing anak juga berbeda. Sebagaimana teori Erik Erikson mengenai Developmental Stages yang dikutip oleh James Wilder dalam “The Theoretical Basis for The Life Model”, pada usia 0-1 tahun umumnya seorang anak memiliki sifat “I am what I am given”, dimana perkembangan seorang anak sangat bergantung pada apa yang diberikan kepadanya. Jika anak dalam usia ini banyak diberikan senyum, maka ia akan mudah belajar tersenyum. Pada usia 0-1 tahun ini, anak akan belajar sesuai dengan apa yang ia lihat.

Fase anak usia 1-3 tahun memiliki sifat “I am what I will”, atau aku adalah apa yang aku inginkan. Dalam tahap ini seorang anak akan berusaha keras untuk melakukan sesuatu yang ia inginkan. Tidak heran jika di fase ini anak akan berusaha melakukan sesuatu seperti berlari atau naik turun tangga dengan pantang menyerah meskipun sudah merasakan jatuh bangun hingga ratusan kali. Meski sebagai Ibu, terkadang kita melihatnya sudah capek, namun dalam fase ini si Kecil tidak mengenal kata ‘kapok’.

Fase berikutnya yakni pada usia 3-6 tahun, seorang anak memiliki sifat “I am what I can imagine” dimana ia akan berkembang mengikuti daya imajinasinya. Perlu peranan orangtua untuk mendampingi anak mengendalikan imajinasinya. Misalnya, jika anak terlalu banyak menonton film yang mengandung untur kekerasan, pada fase ini anak akan cenderung belajar untuk melakukan hal-hal sejenis seperti memukul atau menendang. Untuk itu tidak heran jika para ahli banyak merekomendasikan orang tua untuk mengajak anak bermain peran dengan banyak unsur kebaikan sehingga ia akan tumbuh menjadi anak yang berbudi pekerti.

Pada usia yang lebih besar yakni 6-12 tahun, seorang anak akan memiliki sifat “I am what I can learn”, atau aku adalah apa yang aku pelajari. Dalam usia ini anak-anak akan berkembang perilaku dan kecerdasannya seiring dengan semakin banyaknya hal-hal yang ia pelajari. Kita sebagai orangtua dapat membimbing mereka untuk mempelajari berbagai hal baru yang belum dia ketahui. Dia akan banyak tertarik pada teka-teki, petualangan, hal-hal yang membuatnya penasaran. Untuk dapat menjalani fase ini dengan baik, orangtua perlu mendukung sang anak untuk menuntaskan tumbuh kembang pada fase sebelumnya dengan optimal.

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat info bahwa Wyeth Nutrition dalam situs Parenting Club-nya yang dapat diakses di https://www.parentingclub.co.id menyediakan fitur baru yakni Kalkulator AFS (Akal, Fisik, dan Sosial). Kalkulator AFS adalah sebuah tool yang dibuat dan diverifikasi oleh Dr. Ahmad Suryawan, dr., SpA(K), Dokter Spesialis Anak yang juga seorang konsultan tumbuh kembang pediatri sosial.

Dengan kalkulator AFS ini, kita dapat mengetahui tingkat sinergi akal, fisik, dan sosial anak kita dari usia 6 bulan sampai 7 tahun. Untuk bisa menggunakan kalkulator AFS ini, kita cukup mendaftarkan diri ke situs Parenting Club ID, dan mengaksesnya melalui URL http://bit.ly/Kalkulator-AFS serta mengisi field yang tersedia.

Dari kalkulator tersebut kita dapat mengetahui komposisi hasil sinergisme AFS dari anak kita. Nah satu hal lagi yang menarik adalah setelah mengetahui komposisi jasil sinergi masing-masing aspek, kita akan mendapat rekomendasi stimulasi yang dapat diberikan kepada Si Kecil. Untuk anak seusia putri saya, beberapa hal yang menjadi rekomendasi diantaranya:
1. Ajukan pertanyaan pada si Kecil yang jawabannya tidak sekedar “Ya” atau “Tidak”
Misalnya:
– Kamu sekarang ingin bermain apa?
– Dimana kamu menyimpan mainan bolamu
– Kue seperti apa yang kamu paling suka

2. Berikan kesempatan kepada si kecil untuk berlatih keterampilan fisik yang lebih sulit lagi
Misalnya:
– Memanjat tangga
– Mengayuh sepeda roda tiga
– Melompati sebuah parit kecil

3. Stimulasi Si Kecil untuk melakukan aktivitas yang membutuhkan kerja motorik halus
Misalnya:
– Meronce mainannya dengan seutas tali
– Menempel berbagai stiker kecil
– Membuka bungkus kue kecil

4. Dorong si Kecil untuk menggunakan logika sederhana dalam situasi sehari-hari
– Ketika hujan, tanyakan kita butuh apa supaya tidak basah
– Ketika mau cuci tangan, tanyakan kepadanya butuh apa saja untuk cuci tangan

5. Dorong si Kecil untuk peka terhadap perbedaan masing-masing orang di sekitarnya
Misalnya:
– Temanmu yang rambutnya panjang itu namanya siapa, dan yang rambutnya pendek namanya siapa
– Menurut kamu apa bedanya Kakek dan Papa

6. Diskusi dengan si Kecil tentang aktivitas yang ia lakukan sepanjang hari
Misalnya:
– Saat makan malam bicarakan apa yang ia makan siang tadi
– Sebelum tidur malam, bicarakan tentang apa yang ia mainkan dengan teman-temannya tadi siang

7. Bermain berbagai permainan interaktif yang perlu dimainkan secara bergiliran
Misalnya:
– Bermain membuka kartu gambar secara bergiliran
– Bermain bergiliran menempel stiker di atas selembar kertas

8. Lakukan permainan “berpura-pura” untuk membantu si Kecil menghadapi situasi yang kurang menyenangkan baginya
Misalnya:
– Bermain peran atau berpura-pura dengan bonekanya seakan-akan boneka tersebut berpamitan untuk pergi bekerja di pagi hari kepada anaknya

Berdasarkan rekomendasi stimulasi yang diberikan, saya merasa mendapat beberapa inspirasi baru untuk mendukung tumbuh kembang putri saya. Sayapun mencoba mengembangkannya disesuaikan dengan aktivitas dan kebiasaan dia sehingga aktivitas yang ia lakukan dapat berdampak postif bagi tumbuh kembangnya. Dengan adanya kalkulator AFS ini, tentunya menjadi salah satu tool yang membantu saya dalam mengawasi tumbuh kembang si kecil sehingga sebagai orangtua kita dapat lebih tenang dan berperan dengan lebih efektif.

Terima kasih Parentingclub.co.id yang telah mengembangkan tool kalkulator AFS. Senangnya bisa mendapat kesempatan dari #ParentingClubID untuk melakukan #KalkulatorAFSReview dan membagikan hasilnya melalui tulisan ini. Semoga semakin banyak orangtua yang merasakan manfaat dari kalkulator AFS.