Beberapa waktu yang lalu saya melihat sebuah video mengenai gerakan #Repeat yang diinisiasi oleh Arianna Huffington, sebuah inisiatif yang membuat saya tersenyum dan bertepuk tangan tanpa sadar. Dalam gerakan #Repeat ini Arianna Huffington, yang kita kenal sebagai CEO Huffington Post mendorong kaum perempuan untuk menggunakan kostum yang sama (repeat outfits) yang nyaman dan kita sukai secara lebih sering tanpa peduli pendapat orang lain. Inisiatif ini diyakini akan sangat membantu kaum wanita untuk dapat memanfaatkan waktu dan energinya dengan lebih efisien. Dalam presentasinya di acara Fortune’s Most Powerful Women Summit akhir tahun lalu, Arianna menyampaikan bahwa daripada kita menghabiskan banyak waktu dan energi untuk memikirkan model dan warna baju serta aksesoris pendukungnya yang membutuhkan waktu tersendiri, inisiatif #Repeat ini memungkinkan kegiatan tersebut dialihkan ke hal-hal lain yang lebih bermanfaat dan efektif.

I think women should deliberately repeat things they love”, begitu pendapatnya. Sebagai seorang CEO sebuah media global ia juga menambahkan “Men have a competitive advantage. They don’t have to wate the kind of energy we waste”. Saya sangat setuju pendapat beliau, saya sendiri bisa membandingkan dengan jelas bagaimana waktu, energi, dan biaya yang dihabiskan oleh kaum perempuan jauh lebih besar dibandingkan yang dilakukan oleh kaum laki-laki untuk keperluan ini.

Dalam instagramnya dapat kita lihat bagaimana Arianna menerapkan inisiatif ini dalam kehidupannya. Dalam acara-acara penting, seringkali para perempuan merasa perlu untuk membeli baju dan aksesoris baru, sementara Arianna bahkan mengenakan gaun yang sama pada acara TIME 100 dinner dan Whitehouse Correspondents Dinner. Untuk memudahkan penyebaran inisiasi ini, ia memanfaatkan penggunaan hashtag #Repeat untuk menunjukkan bagaimana ia menggunakan kostum yang sama pada berbagai event.

Arianna Huffingon menunjukkan style #Repeat dalam berbagai acara yang dihadirinya

Lebih jauh bahkan dalam blognya ia menulis bahwa suatu ketika saat menjadi pembicara dalam sebuah seminar, ia menyadari bagaimana para perempuan yang hadir berusaha semaksimal mungkin untuk tampil cantik dan menarik untuk menampilkan kesan sebagai seorang perempuan yang sukses dalam karirnya, sementara di saat yang sama ia melihat kaum laki-laki tampil seadanya dengan mengenakan kaos dan celana jeans. Kalimat beliau yang memberi kesan paling mendalam bagi saya adalah “As women, we’ve collectively broken many glass ceilings, but still seem to laboring under the cotton-silk-rayon-makeup-and heels ceiling”. Fakta yang sesungguhnya luar biasa kan?

Saat mencari referensi mengenai hal ini, saya bahkan menemukan artikel yang ditulis di halaman Today pada tahun 2015 mengenai fakta bahwa para perempuan yang bekerja dengan mengenakan seragam ternyata dinilai lebih fokus dalam bekerja. Yup, saya rasa ini terkait dengan bagaimana di pagi hari para perempuan ini tidak perlu memikirkan banyak hal terkait mix and match pakaian. Meskipun memang bisa dikatakan berbeda antara penggunaan seragam dengan pengunaan berulang pakaian yang disukai, namun kedua hal ini memiliki logika yang sama yakni berpikir praktis dan sederhana untuk menghemat waktu, tenaga, dan biaya.

Saya sendiri merasakan bagaimana jumlah baju yang mungkin mencapai empat kali lipat jumlah baju suami saya namun seringkali masih membuat saya perlu membeli baju baru saat ingin menghadiri acara-acara tertentu. Sebelum berangkat ke kantor saya juga seringkali menghabiskan cukup banyak waktu untuk memikirkan mix and match baju, celana, dan kerudung saya agar serasi. Sementara suami saya tidak pernah menghabiskan bayak waktu untuk hal ini dan tidak pernah berkeberatan untuk mengenakan kemeja atau setelan jas yang sama berulang-ulang. Bahkan saat menjadi pembicara di berbagai seminar atau bahkan di televisi, ia sangat sering mengenakan setelan jas favoritnya dan tidak menemui masalah apapun terkait hal tersebut. Concern kaum perempuan terhadap upaya untuk selalu tampil stylish dengan banyak koleksi outfit bahkan ditangkap sebagai peluang bisnis oleh startup seperti Belsbee yang menyewakan gaun untuk berbagai acara bahkan Style Theory yang menyewakan baju untuk kegiatan sehari-hari. Saya sendiri berharap suatu hari dapat menghilangkan sepenuhnya seluruh tuntutan dalam diri saya untuk mengenai tampilan luar atau fisik dan berfokus pada hal-hal yang lebih bermanfaat termasuk bekerja dengan produktif, mengembangkan wawasan dan kualitas diri.

Sejak memahami nilai-nilai positif dari inisiasi ini saya mengamati bahwa saat ini ada cukup banyak tokoh-tokoh perempuan yang melakukan hal sejenis, seperti Kate Middleton, Michelle Obama, bahkan Melania Trump.  Jika tokoh-tokoh yang bisa dikatakan trendsetter tersebut sudah melakukannya, tidak perlu heran jika akan semakin banyak kaum perempuan melakukan hal yang sama.