Tanggal 1 April 2018 yang lalu MIT menampilkan hasil karyanya di bidang Artificial Intelligence (AI), yakni Norman, sebuah AI psikopat pertama di dunia. Norman diciptakan untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa data yang digunakan untuk penerapan algoritma machine learning dapat mempengaruhi perilaku yang dihasilkan secara signifikan. Adanya Norman diharapkan dapat mengurangi perdebatan yang banyak dihasilkan di kalangan penggiat AI yang mengeluhkan bahwa algoritma AI seringkali memberikan hasil yang bias. Melalui hadirnya Norman diharapkan banyak pihak menyadari bahwa penyebab utama dari hal-hal tersebut adalah karena kualitas data yang diberikan. Bahkan apabila seorang pengembang AI menerapkan dua algoritma yang sama, keluaran yang dihasilkan bisa berbeda signifikan bergantung pada data yang diberikan selama proses machine learning. Norman adalah produk yang dihasilkan dari upaya penciptanya untuk mempelajari sisi gelap Reddit terkait hal-hal psikopat dan menunjukkan kepada masyarakat betapa bahayanya penerapan dengan menggunakan data yang kurang tepat.

Norman adalah produk AI yang diajarkan untuk mengenali gambar Fungsi ini bisa dibilang salah satu fungsi AI yang sangat populer untuk mendeskripsikan citra gambar dalam bentuk teks. Pencipta Norman menyediakan data yang diambil dari sebuah subforum Reddit mengenai psikopat dan dan hal-hal menegangkan mengenai kematian. Dulu saya dan teman-teman di masa SMA yang menyukai film detektif seringkali melihat hal serupa di bagian Disturbing Picture di salah satu forum Indonesia. Setelah mempelajari gambar-gambar dan dokumen dalam forum tersebut, peneliti mencoba membandingkan deskripsi yang dihasilkan oleh Norman dengan yang dihasilkan oleh AI standar dengan menggunakan metode Rorsarch Inkbolt, yang ternyata hasilnya cukup mengejutkan.

 

Sangat mengejutkan mengetahui bagaimana Norman mendeskripsikan gambar-gambar tersebut. Hampir seluruh gambar dikenali sebagai mayat, darah, kecelakaan dan hal-hal menegangkan laiinya. Gambar-gambar sejenis biasanya digunakan juga oleh para psikolog untuk membantu menilai keadaan pikiran pasien khususnya apakah mereka memandang dunianya dengan pikiran positif atau negatif.

Saat ini kecerdasan buatan (AI) sangat banyak diterapkan di sekitar kita. Beberapa waktu yang lalu, Google telah berhasil menciptakan AI untuk menelepon dengan suara yang hampir tidak bisa dibedakan dengan suara manusia. Sementara Deepmind, yang juga merupakan perusahaan Alphabet, berhasil membuat algoritma yang dapat melatih dirinya sendiri untuk memainkan berbagai game yang kompleks. Tidak bisa dipungkiri di Indonesia sendiri AI akan segerah dimanfaatkan di berbagai Industri, dari personal asistant, penyaringan email, pencegahan tindak kriminal, pengenalan suara, hingga klasifikasi konten. AI bahkan telah dapat menyusun artikel berita, bekerja sebagai customer service, menganalisa laporan keuangan, serta memberikan wawasan mengenai efisiensi biaya untuk data center.

Kehadiran Norman membuktikan bahwa AI perlu dipahami sebagai representasi pembelajaran data. Untuk itu, banyak pihak perlu lebih memahami bahwa dalam dunia machine learning, kualitas data jauh lebih penting dibandingkan algortimanya. Sebagai bagian dari masyarakat teknologi, sudah sewajarnya kita perlu turut aktif menumbuhkan kesadaran bahwa pemanfaatan data yang kurang tepat akan memberikan hasil yang tidak maksimal. Untuk itu, diperlukan upaya pembenahan data pada khususnya juga manajemen dan tata kelola data yang baik pada umumnya untuk menghindari pemanfaatan data kurang tepat yang nantinya akan tercermin pada hasil akhir baik secara langsung maupun tidak langsung.