Hari ini Alisya tepat berusia 10 bulan. Rasanya waktu berjalan begitu cepat saat saya melihat perkembangan yang sudah dia capai saat ini. Perkembangan motorik pada anak memang sejalan dengan kematangan saraf dan otot anak. Dan yang perlu kita ketahui bahwa setiap gerakan yang dilakukan oleh anak kita sesederhana apapun, merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan system dalam tubuh yang dikontrol oleh otak. Oleh sebab itu, kita perlu menyadari bahwa perkembangan setiap anak tidak bisa sama, tergantung pada proses kematangan saraf dan otot masing-masing anak. Namun demikian, kita tetap bisa memberikan rangsangan dan stimulasi untuk mendorong perkembangan anak kita.

Salah satu hal yang menjadi dilema saya sejak sekitar dua bulan terakhir adalah mengenai baby walker. Beberapa orang di sekitar saya menyarankan saya bahwa di usia tujuh bulan saya perlu memberikan Baby Walker kepada Alisya supaya nantinya otot kakinya terlatih, lebih kuat, dan lebih mudah jalan. Menanggapi masukan-masukan yang ada, akhirnya saya mencoba berdiskusi pada lebih banyak teman dan mempelajari beberapa literatur, dan hasilnya adalah saya justru mendapat kesimpulan bahwa penggunaan baby walker memberikan lebih sedikit manfaat dibandingkan dengan risiko-risiko yang ada.

Baby walker adalah sebuah alat yang terdiri dari kerangka keras beroda, dimana bayi didudukkan dalam sling dengan meja mainan di depannya. Untuk dapat bergeser, bayi cukup mendorong jari-jari kakinya sambil bersandar pada meja. Baby walker menjadikan bayi lebih tinggi dan memungkinkan bayi mencapai barang-barang yang letaknya tinggi.

Dari beberapa literature yang saya baca, Laporan dari American Academy of Pediatrics tahun 2001 mengatakan bahwa Pada tahun 1999 diperkirakan sebanyak 8800 anak usia dibawah 15 bulan dibawa ke UGD karena kecelakaan akibat baby walker. Sementara sejak tahun 1973 sampai 1998 dilaporkan sebanyak 34 bayi meninggal akibat kecelakaan baby walker yang sebagian besar disebabkan jatuh dan cedera kepala. Beberapa risiko yang dihadapi bayi saat berada di baby walker diantaranya luka kepala/otak, patah tulang, dan luka bakar. Luka-luka tersebut bisa terjadi diantaranya pada saat :

  • Baby walker jatuh karena bergerak ke arah tangga
  • Baby walker terjungkal pada permukaan yang tidak rata
  • bayi dapat mencapai tempat api atau alat penghangat
  • bayi dapat mencapai lemari/laci yang berisi sabun cuci atau bahan kimia lain
  • bayi dapat mencapai minuman panas, ceret mendidih, seterika
  • bayi dapat mencapai ember atau baskom air

Penggunaan baby walker ternyata juga tidak menolong bayi untuk berjalan lebih cepat. Baby Walker justru mengurangi keinginan anak untuk berjalan, karena adanya alternatif yang lebih mudah, yaitu berkelana dengan Baby Walker tersebut. Baby Walker juga menguatkan otot yang salah. Kedua tungkai bawah memang diperkuat, tetapi tungkai atas (paha) dan pinggul tetap tidak terlatih. Padahal tungkai atas dan pinggul sangat penting untuk berjalan. Jadi pemakaian Baby Walker tidak bermanfaat untuk melatih anak berjalan.

Selain itu baby walker juga mengakibatkan bayi tidak dapat melihat kaki dan anak kakinya. Bayi tidak mempelajari cara untuk mengimbangkan tubuh. Bayi-bayi itu sering berdiri dengan ujung jari kaki, yang mungkin mengakibatkan otat yang tegang dan mengajar bayi untuk berjalan pada ujung jari kaki.

Coby Fence

Salah satu barang yang menurut saya sangat berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan Alisya dalam belajar berjalan adalah Coby Fence alias pagar bayi dari Coby Haus. Pagar bayi ini punya banyak fungsi di samping dijadikan sebagai play yard juga sangat sangat berguna banget buat belajar jalan dan menguatkan otot-otot kaki.

Saya membeli Coby Fence ini pada saat Alisya mulai mencoba berdiri di dengan berpegangan di badan orang dewasa di sekitarnya, saat itu usianya 7 bulan. Beberapa hari setelah saya membelikan Coby Fence dan memasangnya di ruang keluarga, Alisya bisa dengan cepat beralih dari posisi duduk menjadi berdiri. Kurang lebih 3 hari kemudian dia mulai belajar untuk bergerak sedikit demi sedikit dengan berpegangan pada Coby Fence dan beberapa minggu kemudian dia bisa berjalan di sekeliling area dalam waktu relative cepat hanya dengan berpegangan pada Coby Fence. Beberapa hari kemudian saya mengubah bentuk Coby Fence berbentuk U dengan sisi menghadap ke tembok, dan Alisya bahkan sudah berani untuk mencoba belajar berjalan hanya dengan menempelkan tangannya pada tembok.

Paket Coby fence yang saya beli terdiri dari 8 panel berikuran 40cm (L) x 60cm (H), serta 1 panel pintu dan 1 panel activity board yang masing-masing berukuran 80cm (L) x 60cm (H). Saat ini area Coby Fence Alisya selalu digunakan untuk tempat dimana dia paling banyak menghabiskan waktunya. Selain bisa memainkan berbagai hal yang ada di panel activity board, saya juga meletakkan berbagai macam mainan dan buku untuk merangsang perkembangan motoriknya.

Beberapa kelebihan lain dari Coby Haus Baby Fence, antara lain :

  1. Kombinasi warna cerah membuat anak tertarik
  2. Bentuk dapat diatur sesuai kebutuhan
  3. Dilengkapi dengan safety lock
  4. Instalasi mudah dan cepat
  5. Menempel dengan kuat di permukaan lantai
  6. Apabila jumlah panel dirasa kurang, dapat membeli panel tambahan sesuai kebutuhan
  7. Dapat digunakan sebagai play yard bahkan sampai anak besar

Saya merasa saat ini perkembangan Alisya cukup baik dan pesat untuk ukuran bayi seumurannya. Bahkan pada usia 9 bulan, Alisya sudah bisa menaiki tangga ke lantai 2 di rumah kami.

Semoga sharing pengalaman kami ini bisa bermanfaat buat para orangtua lainnya.